SANTORI HASAN WAFAT, RATUSAN PELAYAT ANTARKAN KE PERISTIRAHATAN TERAKHIR

Mantan Bupati Tulang Bawang dan Anggota DPD RI Itu Dikenang sebagai Sosok Bersahaja, Pembimbing, dan Sahabat Lintas Generasi

BANDAR LAMPUNG — Kabar duka menyelimuti keluarga besar, sahabat, dan masyarakat Lampung. H. Santori Hasan bin Nur Hasan, tokoh birokrasi dan mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Lampung, wafat pada Kamis dini hari, 22 Oktober 2026, pukul 03.01 WIB, di RSUD Abdul Moeloek (RSUDAM) Tanjungkarang.

Kepergian sosok yang dikenal ramah, bersahaja, dan dekat dengan berbagai kalangan itu meninggalkan duka mendalam. Ratusan pelayat mendatangi rumah duka di Perumahan Pondok Kemala, Hajimena, Natar, Lampung Selatan, sejak Kamis pagi. Mereka datang silih berganti, menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Bukan hanya keluarga dan kerabat, sejumlah mantan pejabat Pemerintah Provinsi Lampung, tokoh masyarakat, politisi, hingga insan pers turut hadir. Kehadiran mereka menjadi gambaran luasnya jalinan persahabatan yang dibangun Santori Hasan sepanjang perjalanan hidup dan pengabdiannya.

Di antara pelayat yang datang terdapat mantan Sekretaris Daerah Provinsi Lampung yang kini menjadi anggota DPR RI, Irham Djafar Lan Putra; mantan Bupati Lampung Selatan Kolonel Purnawirawan Sunardi; mantan Bupati Lampung Timur Irfan Nuranda Djafar; mantan Wakil Bupati Tulang Bawang Agus Mardihartono; mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tauhidi; mantan Kepala Dinas Perkebunan Tibrizi Asmarantaka; mantan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Husodo Hadi; serta mantan Kepala Biro Perekonomian sekaligus Sekretaris Daerah Kota Metro, Munjidi Asmarantaka.

Sejumlah pejabat yang masih aktif juga hadir, di antaranya Inspektur Provinsi Lampung Bayana dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Thomas Amirico. Ketua Komisi IV DPRD Lampung, Mukhlis Basri, turut datang untuk memberikan penghormatan terakhir.

## Rekam Jejak Panjang Pengabdian

Santori Hasan lahir di Negeri Agung, Kabupaten Way Kanan, pada 25 Oktober 1943. Sepanjang perjalanan hidupnya, ia menorehkan pengabdian panjang di dunia pemerintahan, mulai dari birokrasi hingga menjadi kepala daerah dan anggota DPD RI dari Provinsi Lampung.

Namanya tercatat dalam sejarah pemerintahan daerah sebagai Bupati Tulang Bawang periode 1997–2002, sekaligus bupati pertama kabupaten tersebut. Di bawah kepemimpinannya, daerah yang saat itu tengah membangun fondasi pemerintahan dan pelayanan publik menjalani fase awal perjalanan sebagai kabupaten.

Jejak pengabdiannya juga membawanya berkiprah di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung. Saat menjabat Kepala Biro Hubungan Masyarakat pada era Gubernur Pudjono Pranyoto, Santori dikenal memiliki hubungan baik dengan kalangan wartawan.

Bagi sebagian orang, jabatan dan kedudukan mungkin menjadi penanda perjalanan karier. Namun, bagi mereka yang pernah bekerja bersama Santori, kedekatan personal, sikap membimbing, serta kemampuannya menjaga silaturahmi menjadi bagian penting dari kenangan yang ditinggalkannya.

## Guru dan Sahabat bagi Insan Pers

Wartawan senior Suprapto, yang turut melayat ke rumah duka, mengenang Santori Hasan sebagai sosok guru sekaligus sahabat. Hubungan baik keduanya tetap terjalin meskipun waktu dan perjalanan karier telah membawa mereka melewati berbagai fase kehidupan.

Kedekatan Santori dengan insan pers tidak terlepas dari pengalamannya ketika menjabat Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Lampung. Dalam posisi tersebut, hubungan antara pemerintah dan wartawan menjadi bagian dari kesehariannya.

Sikapnya yang bersahaja membuat komunikasi dapat terjalin tanpa sekat berlebihan. Bagi kalangan yang pernah berinteraksi dengannya, Santori bukan semata pejabat yang dikenal melalui jabatan, melainkan juga pribadi yang menjaga hubungan antarmanusia.

Kenangan itulah yang kembali terasa ketika kabar wafatnya menyebar. Para sahabat yang datang ke rumah duka tidak hanya menyampaikan belasungkawa, tetapi juga mengenang perjalanan panjang bersama almarhum.

## Mukhlis Basri: Saya Dipercaya Menjadi Camat Menggala

Kenangan serupa disampaikan Ketua Komisi IV DPRD Lampung, Mukhlis Basri. Hubungannya dengan Santori Hasan terjalin ketika almarhum memimpin Kabupaten Tulang Bawang sebagai bupati pertama periode 1997–2002.

Pada masa itu, Mukhlis dipercaya mengemban tugas sebagai Camat Menggala. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya di pemerintahan daerah.

“Selama almarhum menjadi Bupati Tulang Bawang, selama itu pula saya ditugaskan menjadi Camat Menggala,” ucap Mukhlis Basri usai turut menyolatkan jenazah Santori Hasan.

Pernyataan singkat itu menyiratkan hubungan kerja yang berlangsung selama masa kepemimpinan Santori. Bagi Mukhlis, kepergian mantan bupati tersebut bukan sekadar kabar wafat seorang tokoh daerah, melainkan juga kehilangan sosok yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kariernya.

Kehadiran Mukhlis di rumah duka sekaligus menunjukkan bahwa hubungan yang terbangun melalui tugas pemerintahan dapat berlanjut menjadi penghormatan dan persaudaraan setelah masa jabatan berakhir.

## Tangis Keluarga Mengiringi Prosesi Kafan

Di tengah ramainya pelayat, suasana haru menyelimuti keluarga ketika jenazah Santori Hasan akan dikafani. Sang istri, Deli Santori, terus melantunkan selawat sembari memandang jasad suami yang telah mendampinginya dalam perjalanan panjang kehidupan.

Ia kemudian memanggil anak-anak, menantu, dan cucu untuk menyaksikan prosesi pemasangan kain kafan. Momen tersebut menjadi saat yang berat bagi keluarga untuk melepas orang yang mereka cintai.

Di hadapan jenazah, kenangan tentang seorang suami, ayah, kakek, dan anggota keluarga yang selama ini hadir dalam kehidupan sehari-hari seolah berkumpul dalam satu suasana duka.

Meski kehilangan menyisakan kesedihan mendalam, keluarga menyatakan telah mengikhlaskan kepergian almarhum. Keikhlasan itu menjadi bagian dari upaya menerima ketetapan Tuhan, sembari menyimpan kenangan atas kasih sayang dan kebersamaan yang telah dilalui.

## Silaturahmi yang Meninggalkan Jejak

Wafatnya Santori Hasan menutup perjalanan panjang seorang putra Way Kanan yang mengabdikan diri di dunia pemerintahan dan politik. Namun, jejak kehidupan seseorang tidak hanya tercermin dari jabatan yang pernah diduduki, melainkan juga dari hubungan yang tetap terpelihara setelah jabatan itu ditinggalkan.

Ratusan pelayat yang mendatangi rumah duka, mulai dari mantan pejabat, pejabat aktif, politisi, wartawan, hingga sahabat dan kerabat, menjadi saksi atas luasnya pergaulan Santori Hasan.

Dari birokrasi Pemerintah Provinsi Lampung, kepemimpinan di Kabupaten Tulang Bawang, hingga pengabdiannya sebagai anggota DPD RI, Santori melewati berbagai babak kehidupan dengan jaringan persahabatan yang terus terjaga.

Kini, perjalanan itu telah berakhir. Santori Hasan berpulang, meninggalkan keluarga yang mencintainya, sahabat yang mengenangnya, serta jejak pengabdian yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah pemerintahan Lampung.

Selamat jalan, H. Santori Hasan bin Nur Hasan. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *