DesaKu Maju Pacu Hilirisasi Desa

Pemerintah Provinsi Lampung terus mendorong transformasi ekonomi desa melalui Program DesaKu Maju dengan menitikberatkan pada hilirisasi sektor pertanian sebagai strategi utama peningkatan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat.

Kepala Bappeda Provinsi Lampung, Anang Risgiyanto, yang mewakili Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, mengatakan program ini dirancang untuk memperkuat ekonomi dari tingkat desa secara berkelanjutan.

“Program DesaKu Maju merupakan bagian dari transformasi ekonomi desa yang terarah. Ini bukan sekadar bantuan alat, tetapi upaya hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian,” ujarnya saat kegiatan pelatihan operator mesin pengering (bed dryer) dan manajemen bisnis di Kecamatan Natar, Lampung Selatan, belum lama ini.

Menurutnya, hilirisasi menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi lokal, khususnya pada tiga komoditas utama yakni padi, jagung, dan singkong, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Lampung.

“Dengan hilirisasi, kualitas hasil panen meningkat, kehilangan pascapanen bisa ditekan, dan akses pasar petani semakin luas,” jelasnya.

Pemanfaatan teknologi pascapanen seperti mesin pengering (bed dryer) dinilai mampu meningkatkan daya saing produk pertanian sekaligus memperpendek rantai distribusi. Selain itu, limbah hasil pertanian juga diolah menjadi produk bernilai tambah seperti pakan ternak berbasis bahan lokal.

Program DesaKu Maju juga terintegrasi dengan agenda strategis nasional dan daerah, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan Kawasan Desa Mandiri Pangan, serta pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai pilar ekonomi kerakyatan.

“Pendekatan yang kami dorong adalah pemberdayaan masyarakat. Desa harus mandiri secara ekonomi, tidak bergantung pada bantuan sosial,” tegas Anang.

Secara konkret, pada tahun 2026 Pemprov Lampung menargetkan pembangunan fasilitas bed dryer di 82 lokasi, distribusi pupuk organik cair di 800 titik, serta pelatihan vokasi bagi 500 peserta guna meningkatkan kapasitas sumber daya manusia desa.

Selain itu, pengembangan kawasan percontohan hilirisasi juga akan diperluas di berbagai kabupaten dan kota sesuai dengan potensi komoditas unggulan masing-masing daerah.

Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) turut diperkuat sebagai motor penggerak ekonomi desa, terutama dalam pengelolaan pascapanen dan distribusi hasil produksi.

“Penguatan infrastruktur desa, akses pasar, dan dukungan permodalan menjadi kunci keberhasilan program ini,” tambahnya.

Pemprov Lampung optimistis, hilirisasi pertanian akan berdampak signifikan terhadap peningkatan pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja di desa, serta penguatan ketahanan pangan daerah.

Ke depan, program ini diharapkan mampu menghadirkan pembangunan ekonomi yang lebih merata, dimulai dari desa sebagai fondasi utama pertumbuhan daerah. (dbs).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *