Belajar dari Persib, Klub Liga 1 Didorong Bangun Ekosistem Sepak Bola Mandiri

Bukan Sekadar Belanja Pemain, Stadion, Training Centre dan Akademi Dinilai Jadi Fondasi Bisnis Sepak Bola

BANDAR LAMPUNG — Pengelolaan klub sepak bola Indonesia kembali menjadi sorotan. Kekuatan finansial pemilik klub dinilai seharusnya tidak hanya digunakan untuk mendatangkan pemain, tetapi juga diarahkan membangun ekosistem sepak bola yang kuat dan berkelanjutan.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi mengenai model bisnis klub sepak bola, termasuk Persib Bandung. Coach Dino Sefriyanto menyebut Persib memiliki dukungan pendanaan kuat dari pemiliknya, Glenn Sugita, yang juga dikenal sebagai pengusaha dan mantan atlet tenis Jawa Barat.

“Owner Persib, Pak Glenn Sugita, mantan atlet tenis Jawa Barat sekaligus pemilik perusahaan Northstar Group. Jadi kuat sekali pendanaannya. Bahkan musim ini Pak Glenn juga mendanai tim Liga 1 PSGC sebagai tim satelit,” ujar Dino dalam percakapan tersebut, Jumat (21/8/2026).

Namun, kekuatan finansial tersebut dinilai semestinya dibarengi dengan pembangunan aset dan infrastruktur sepak bola. Salah satu gagasan yang mencuat adalah klub memiliki stadion sendiri, pusat latihan yang representatif, serta akademi yang terintegrasi.

Dero978 Monologis menilai basis suporter yang besar dapat menjadi modal bisnis jangka panjang apabila dikelola secara profesional.

“Kalau secara bisnis, Persib itu captive market suporternya sangat jelas. Harusnya bisa menjalankan bisnis industri sepak bola yang proper layaknya Brighton & Hove Albion. Punya stadion, pusat latihan, akademi, dan selalu cuan ketika transfer window,” ujarnya.

Menurut dia, pembangunan infrastruktur bukan sekadar menghabiskan anggaran, melainkan dapat menjadi investasi dan aset klub dalam jangka panjang.

“Kalau ngayal mudah, seperti Bos Sagita Persib. Saya mending buat stadion, lapangan latihan dan akademi yang proper. Toh aset jadi leverage, selain kontrak pemain dengan durasi panjang,” katanya.

Ia juga menilai pembangunan ekosistem tersebut penting untuk mendorong perubahan tata kelola sepak bola Indonesia agar semakin profesional dan berorientasi bisnis.

“Sekalian mendorong liga kita memang murni bisnis yang sehat, dengan verifikasi klub tanpa cingcai,” tegasnya.

Dino menyambut positif gagasan tersebut. Menurut dia, klub-klub Liga 1 memang membutuhkan waktu untuk membangun stadion sendiri. Namun, sebagian klub dinilai sudah mulai memiliki fasilitas lapangan latihan.

“Betul. Klub-klub liga kita butuh waktu untuk bisa bangun stadion sendiri. Kalau untuk lapangan latihan mungkin mereka sudah punya,” kata Dino.

Perdebatan tersebut pada akhirnya mengarah pada satu persoalan mendasar: seberapa serius klub sepak bola Indonesia membangun bisnis yang berkelanjutan, bukan hanya bergantung pada kekuatan finansial pemilik?

Model pengelolaan klub yang memiliki stadion, pusat latihan, akademi, basis suporter kuat, serta sistem pembinaan dan transfer pemain yang sehat dinilai dapat menjadi fondasi menuju industri sepak bola Indonesia yang lebih profesional.

Jika infrastruktur dan aset klub dibangun secara serius, kekuatan suporter tidak hanya menjadi sumber dukungan di tribun, tetapi juga dapat berkembang menjadi captive market yang menopang pendapatan klub dalam jangka panjang. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *