Hasbullah
Peserta Training of Trainer Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Berperspektif Islam PPNA
Ada kalimat yang sering kita dengar di rumah, sekolah, bahkan di ruang tunggu puskesmas: “Nanti kamu mengerti sendiri.” Kalimat itu sering muncul ketika anak bertanya tentang menstruasi, perubahan tubuh, kehamilan, atau organ reproduksi. Pertanyaan sederhana yang seharusnya menjadi pintu masuk pengetahuan justru ditutup dengan rasa malu, nada bisik-bisik, atau istilah pengganti yang samar.
Dalam budaya kita, kata-kata seperti “vagina”, “penis”, “menstruasi”, atau “hubungan seksual” kerap dianggap tidak pantas diucapkan. Masyarakat memilih menyebutnya sebagai “halangan”, “itu”, “burung”, atau “hal-hal dewasa”. Niatnya mungkin baik: menjaga kesopanan dan melindungi anak. Namun, akibatnya sering tidak baik: anak tumbuh tanpa bahasa yang tepat untuk memahami tubuhnya sendiri, dan remaja mencari jawaban dari sumber yang belum tentu aman maupun akurat.
Bahasa yang Diam, Pengetahuan yang Tertunda
Bahasa tabu bukan sekadar persoalan kata. Ia adalah cara masyarakat menentukan apa yang boleh dibicarakan dan apa yang harus disembunyikan. Ketika kesehatan reproduksi diperlakukan sebagai rahasia, anak belajar bahwa tubuhnya adalah wilayah yang memalukan. Ketika menstruasi hanya disebut “datang bulan” dengan nada malu-malu, anak perempuan dapat tumbuh dengan persepsi bahwa proses alami itu kotor atau memalukan.
Padahal, reproduksi adalah bagian dari kehidupan. Pubertas, menstruasi, mimpi basah, perubahan emosi, hingga pemahaman tentang persetujuan dan batas tubuh adalah pengetahuan dasar yang dibutuhkan setiap anak. Menunda pembicaraan itu tidak membuat anak terlindungi; justru membuat mereka lebih rentan karena tidak memiliki bekal untuk mengenali perubahan tubuh, menghindari risiko, atau melapor ketika mengalami kekerasan.
Sebenarnya persoalan terbesar bukanlah pada ketidaktahuan anak, melainkan pada keengganan orang dewasa untuk membuka ruang bicara. Kita sering menuntut anak untuk berhati-hati, tetapi tidak memberi mereka pengetahuan yang cukup untuk berhati-hati. Sunyi bukanlah perlindungan; sunyi hanya memindahkan jawaban dari ruang keluarga dan sekolah ke dunia maya yang tidak selalu aman. Karena itu, membangun bahasa yang terbuka dan santun adalah bentuk perlindungan yang paling awal.
Bukan Soal Vulgar, tetapi Soal Tepat
Kerap muncul kekhawatiran bahwa membicarakan reproduksi akan “membuka pintu” perilaku seksual remaja. Kekhawatiran itu perlu dijawab dengan bukti. Pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi yang komprehensif tidak terbukti mempercepat aktivitas seksual. Sebaliknya, pendidikan tersebut meningkatkan pengetahuan remaja, membantu mereka mengenal tubuh dan hubungan yang sehat, menurunkan perilaku berisiko, serta mendukung pencegahan kehamilan tidak diinginkan dan infeksi menular seksual.
Masalahnya, dalam praktiknya, edukasi reproduksi sering direduksi menjadi larangan: “jangan melakukan ini”, “jangan melakukan itu”. Padahal, pendidikan yang efektif tidak berhenti pada larangan. Ia memberi pemahaman tentang tubuh, emosi, rasa hormat, persetujuan, kesehatan, dan tanggung jawab. UNESCO menekankan bahwa pendidikan seksualitas yang berkualitas harus disusun secara bertahap dan sesuai usia, dengan pelibatan sekolah, orang tua, tenaga kesehatan, serta komunitas.
Oleh karenanya, kata “lugas” tidak boleh disamakan dengan “vulgar”. Membicarakan reproduksi dengan bahasa yang benar justru merupakan wujud kesantunan, sebab kesantunan sejati bukanlah menyembunyikan kenyataan, melainkan menyampaikannya secara manusiawi. Anak tidak membutuhkan bahasa yang menakut-nakuti; ia membutuhkan bahasa yang menenangkan, menjelaskan, dan memberinya kemampuan untuk mengambil keputusan yang aman.
Sekolah dan Keluarga Harus Berani Bicara
Sekolah tidak cukup hanya memberi materi biologi tentang sistem reproduksi. Anak juga perlu diajarkan bahwa tubuhnya berhak dihormati, bahwa ia boleh berkata “tidak”, dan bahwa ia dapat meminta bantuan ketika merasa tidak aman. Guru perlu dilatih menggunakan bahasa yang lugas, santun, dan bebas dari ejekan. Pertanyaan anak tentang reproduksi bukan tanda kenakalan, melainkan kesempatan edukasi.
Keluarga juga memegang peran utama. Orang tua tidak harus menjadi ahli kesehatan reproduksi untuk bisa menjawab. Cukup bersikap tenang, jujur, dan tidak mempermalukan anak. Ketika anak bertanya, “Mengapa kakak perempuan sakit perut setiap bulan?”, orang tua dapat menjelaskan bahwa itu adalah menstruasi, proses normal pada tubuh perempuan, dan dapat dijaga dengan istirahat serta kebersihan yang baik. Jawaban sederhana seperti itu jauh lebih melindungi daripada diam atau mengalihkan pembicaraan.
Sayangnya, penelitian di Indonesia masih menunjukkan bahwa kesehatan reproduksi kerap dipandang tabu, terutama dalam komunikasi orang tua dan anak. Akibatnya, banyak remaja memperoleh informasi lebih banyak dari internet daripada dari orang tua atau guru. Padahal, internet tidak selalu menyaring informasi yang salah, bias gender, atau bahkan konten yang eksploitatif.
Maka, sekolah dan keluarga tidak dapat saling melempar tanggung jawab. Sekolah memberi pengetahuan yang terstruktur, tetapi keluarga memberi rasa aman untuk bertanya. Ketika guru berbicara di kelas, anak belajar secara kognitif; ketika orang tua bersedia mendengar di rumah, anak belajar secara emosional. Keduanya harus hadir. Tanpa keterbukaan keluarga, materi sekolah akan berhenti sebagai hafalan; tanpa pendidikan sekolah, percakapan keluarga berisiko terjebak pada mitos dan ketakutan.
Membuka Pintu dengan Bahasa yang Manusiawi
Memecah tabu bukan berarti membicarakan reproduksi secara vulgar di ruang publik. Justru sebaliknya: kita membutuhkan bahasa yang tepat, jujur, dan beradab. Bahasa yang tepat membuat anak paham; bahasa yang samar membuat anak bingung. Bahasa yang santun membuat anak berani bertanya; bahasa yang menghakimi membuat anak memilih diam.
Kita perlu mengubah cara pandang: tubuh bukanlah aib, menstruasi bukanlah kutukan, pubertas bukanlah rahasia, dan reproduksi bukanlah topik yang haram untuk dipahami. Yang perlu dijaga adalah cara kita membicarakannya: dengan rasa hormat, batas yang jelas, dan kesesuaian usia.
Pada akhirnya, perubahan itu dimulai dari kesediaan kita mengubah cara berbicara. Jika kita ingin generasi yang sehat, mandiri, dan terlindungi, kita harus berani menyebut hal-hal penting dengan kata yang benar. Anak tidak akan rusak karena diberi pengetahuan; anak justru dapat rusak karena dibiarkan tumbuh dalam kebingungan. Maka, mari ganti kalimat “nanti kamu mengerti sendiri” dengan kalimat yang lebih berani dan manusiawi: “Mari kita bicarakan, agar kamu mengerti dan terlindungi.”






