Dari Semangat Sumpah Pemuda, Dorong Penguatan Literasi, Karakter, dan Penguasaan Teknologi
Bandarlampung — Mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 tidak cukup hanya mengandalkan bonus demografi. Kualitas pendidikan, penguatan karakter, penguasaan teknologi, dan kemampuan berinovasi menjadi kunci agar pemuda Indonesia mampu tampil sebagai penggerak kemajuan bangsa.
Pesan tersebut ditegaskan Prof. Dr. Hj. Nirva Diana, M.Pd., Dewan Pakar Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya, saat menjadi pemateri dalam Seminar Kebangsaan Sumpah Pemuda 2026 yang diselenggarakan Pengurus Daerah (Pengda) TP Sriwijaya Provinsi Lampung di Ballroom Akar Hotel & Resort, Bandar Lampung, Selasa (27/10/2026).
Dalam paparannya bertajuk *“Pemuda dan Pendidikan: Menyalakan Semangat Sumpah Pemuda Menuju Generasi Emas Indonesia 2045”*, Nirva menekankan bahwa semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 harus diterjemahkan menjadi karya nyata, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan kontribusi bagi bangsa.
“Sejarah memberi arah, pendidikan membekali, dan pemuda menggerakkan,” menjadi pesan utama yang menggarisbawahi pentingnya keterkaitan antara semangat kebangsaan, kualitas pendidikan, dan peran generasi muda dalam menentukan masa depan Indonesia.
Menurut Nirva, Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan merupakan fondasi untuk membangun identitas bersama sekaligus memperkuat solidaritas di tengah keberagaman.
Jika pada 1928 pemuda berjuang menembus sekat kedaerahan, tantangan generasi saat ini adalah menyatukan gagasan dan aksi di tengah derasnya arus informasi, kesenjangan akses, serta perubahan teknologi.
“Makna persatuan perlu diperbarui. Tantangannya memang berubah, tetapi keberanian untuk bersatu tetap relevan. Pertanyaannya, bersatu untuk mengerjakan apa?” demikian penekanan dalam materi yang disampaikan Nirva.
Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Raden Intan Lampung itu menilai pemuda merupakan kekuatan sosial yang strategis bagi masa depan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 yang dikutip dalam materi, jumlah pemuda Indonesia mencapai 64,22 juta jiwa atau sekitar seperlima dari total penduduk.
Besarnya jumlah tersebut merupakan potensi besar apabila diimbangi dengan pendidikan berkualitas, kompetensi yang relevan, karakter yang kuat, serta kesempatan untuk berkarya dan memperoleh pekerjaan produktif.
Sebaliknya, bonus demografi tidak otomatis menjelma menjadi keuntungan pembangunan jika generasi muda tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk menghadapi perubahan zaman.
Karena itu, Nirva mengingatkan pentingnya membenahi kualitas pembelajaran, terutama kemampuan literasi, numerasi, dan sains. Materi yang dipaparkannya merujuk hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 dari OECD, yang menunjukkan baru 18 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun mencapai minimal Level 2 matematika, 25 persen pada membaca, dan 34 persen pada sains.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian nilai atau perolehan ijazah. Sekolah harus mampu membentuk peserta didik yang memahami pengetahuan, menguasai keterampilan, mampu memecahkan persoalan nyata, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
“Ukuran pendidikan bukan hanya apa yang diketahui peserta didik, melainkan juga apa yang mampu mereka kerjakan dan bagaimana mereka mempertanggungjawabkan tindakannya,” menjadi substansi penting dalam paparan tersebut.
Pendidikan, lanjut gagasan yang disampaikan Nirva, harus menjadi jembatan yang mengubah potensi individu berupa rasa ingin tahu, bakat, dan cita-cita menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menghadapi Indonesia 2045, pemuda perlu dibekali enam kapasitas yang saling menguatkan, yakni literasi, numerasi, kecakapan digital dan kecerdasan buatan atau *artificial intelligence* (AI), kolaborasi, kreativitas, serta karakter.
Literasi diperlukan agar generasi muda mampu membaca informasi secara kritis. Numerasi membantu mereka mengambil keputusan berbasis data. Sementara itu, penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan etika, kejujuran, dan tanggung jawab.
Nirva juga menyoroti perubahan dunia pendidikan di tengah perkembangan AI. Teknologi, menurut materi tersebut, semestinya dimanfaatkan untuk memperkuat proses belajar, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.
Pemuda didorong menggunakan AI untuk mengeksplorasi gagasan, memperoleh umpan balik, dan mengembangkan ide. Namun, setiap informasi yang dihasilkan tetap harus diperiksa, sumbernya diverifikasi, serta penggunaannya dipertanggungjawabkan dengan menjaga privasi dan orisinalitas karya.
Pendekatan pendidikan yang berpusat pada manusia (*human-centred education*) menjadi penting agar kemajuan teknologi tetap mendukung perkembangan nalar, kreativitas, dan integritas peserta didik.
Selain kompetensi, pembentukan karakter seperti kejujuran, ketangguhan, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan.
Nirva menegaskan, pembangunan generasi emas tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah atau pemerintah. Diperlukan ekosistem pendidikan yang memastikan akses merata, mutu pembelajaran, relevansi dengan kebutuhan kehidupan, serta penguatan karakter.
Pemuda harus aktif belajar, berkarya, dan peduli terhadap lingkungan sosialnya. Guru dan sekolah perlu menghadirkan pembelajaran bermakna, keluarga memberikan keteladanan, kampus dan industri menghubungkan ilmu dengan kebutuhan dunia kerja, sedangkan pemerintah menjamin akses, mutu, dan keberlanjutan kebijakan pendidikan.
Dalam kerangka pembangunan nasional, Indonesia Emas 2045 juga memiliki sasaran yang lebih luas, mulai dari peningkatan pendapatan per kapita hingga setara negara maju, penurunan kemiskinan dan ketimpangan, peningkatan pengaruh internasional, penguatan daya saing SDM, serta keberlanjutan lingkungan.
Seluruh sasaran tersebut membutuhkan manusia berkualitas sebagai penggerak utama pembangunan.
Karena itu, persiapan menuju 2045 harus dimulai dari ruang kelas dan kebiasaan sehari-hari. Penguatan budaya belajar dan etika perlu dilakukan sejak sekarang, disusul peningkatan literasi, kecakapan digital, kolaborasi, inovasi, dan kepemimpinan.
Nirva juga mendorong pemuda membangun kebiasaan sederhana tetapi berdampak, seperti membaca kritis selama 20 menit setiap hari, berani mempertanyakan fakta dan asumsi, menguasai setidaknya satu keterampilan, membuat proyek kolaboratif yang bermanfaat, serta menjaga integritas dalam belajar dan berkarya.
Semangat Sumpah Pemuda, dengan demikian, harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan berhenti pada seremoni dan slogan kebangsaan.
“Jika 2045 dimulai hari ini, kontribusi apa yang akan saya mulai?” menjadi pertanyaan reflektif yang disampaikan dalam materi untuk mengajak generasi muda mengevaluasi kebiasaan, menentukan kompetensi yang perlu dikuasai, dan memikirkan manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Pesan akhirnya tegas: **pemuda hari ini menentukan mutu Indonesia esok. Belajar lebih dalam, berkarakter lebih kuat, dan berkarya lebih nyata. (*)






