WARSITO SIAP BAWA UNILA TRANSFORMASI, TAWARKAN 3 MESIN PERUBAHAN

GO UNILA: Berakar di Lampung, Berdampak bagi Indonesia, Berjejaring dengan Dunia

BANDARLAMPUNG – Persaingan memperebutkan kursi Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 memasuki tahapan akhir. Setelah menempati posisi kedua dalam penyaringan calon rektor dengan perolehan 15 suara Senat, Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D., menegaskan kesiapannya membawa Unila menjalani transformasi akademik, riset, inovasi, dan tata kelola universitas.

Warsito tidak memandang 15 suara yang diperolehnya dalam pemilihan Senat, Kamis (29/10/2026), sekadar angka kontestasi. Baginya, dukungan tersebut merupakan kepercayaan awal sekaligus amanah yang harus dijawab melalui gagasan, kapasitas kepemimpinan, dan kerja nyata.

“Saya menerima hasil 15 suara pada penyaringan tanggal 29 Oktober 2026 dengan rasa syukur, hormat, dan tanggung jawab. Lima belas suara itu bukan sekadar angka dalam kontestasi, tetapi kepercayaan awal dari anggota Senat terhadap arah perubahan yang saya tawarkan,” ujar Warsito dalam jawaban tertulis kepada Koran Editor, Jumat (30/10/2026).

Ia menegaskan tetap menghormati seluruh anggota Senat, termasuk mereka yang memberikan dukungan kepada calon lain. Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan bagian yang sah dalam demokrasi akademik.

Dalam penyaringan yang diikuti 47 anggota Senat, Dr. Budiyono, S.H., M.H., memperoleh 22 suara, Prof. Warsito 15 suara, dan Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, S.Ked., M.Kes., Sp.KKLP., meraih tujuh suara. Ketiganya berhak melanjutkan proses pemilihan rektor bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Meski Budiyono unggul dalam perolehan suara Senat, penentuan rektor belum berakhir. Pada pemilihan tahap akhir, suara Senat memiliki bobot 65 persen, sedangkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memiliki bobot 35 persen.

Warsito menyatakan tidak akan memperlakukan hasil penyaringan sebagai kemenangan, melainkan sebagai tanggung jawab untuk membuktikan kesiapan pada tahapan berikutnya.

“Karena itu, saya tidak akan memperlakukan perolehan tahap pertama sebagai kemenangan, tetapi sebagai amanah untuk membuktikan kesiapan lebih jauh,” tegasnya.

**TAWARKAN TIGA MESIN TRANSFORMASI**

Menghadapi tahapan akhir, mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Paris tersebut menawarkan tiga agenda utama yang disebutnya sebagai mesin transformasi Unila.

Pertama, *Academic Quality & Student Success Acceleration*, yakni percepatan peningkatan kualitas akademik dan keberhasilan mahasiswa.

Warsito menempatkan mahasiswa dan proses pembelajaran sebagai pusat pengembangan universitas. Pembenahan akan dilakukan mulai dari kurikulum, kualitas dosen, laboratorium, pendampingan akademik, magang, hingga kesiapan lulusan memasuki dunia kerja.

Salah satu target yang ditawarkan adalah meningkatkan angka kelulusan tepat waktu dari baseline 53,55 persen menjadi 85 persen pada 2031. Namun, angka tersebut masih menjadi sasaran dalam rancangan program yang perlu divalidasi dengan data resmi terbaru dan kapasitas anggaran.

Dalam 100 hari pertama, ia berencana melakukan audit cepat terhadap berbagai hambatan akademik di setiap fakultas dan program studi.

Kedua, *Research, Innovation & Impact Acceleration*, yaitu memperkuat riset, inovasi, dan dampak penelitian bagi masyarakat.

Warsito ingin menjadikan Lampung sebagai *living laboratory* atau laboratorium hidup bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Berbagai persoalan daerah, mulai dari pangan, pertanian, pesisir, biodiversitas, kesehatan, energi bersih, lingkungan, hingga industri, dapat menjadi sumber penelitian yang memiliki relevansi nasional dan internasional.

Menurutnya, keberhasilan riset tidak cukup diukur dari jumlah publikasi ilmiah, tetapi juga harus terlihat dari inovasi, pemanfaatan hasil penelitian, hilirisasi, dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ketiga, *Asset, Governance & Revenue Optimization*, yakni optimalisasi aset, penguatan tata kelola, dan peningkatan pendapatan universitas.

Ia mendorong pemanfaatan aset Unila secara produktif, transparan, dan akuntabel untuk memperkuat kemandirian finansial kampus. Pengembangan sumber pendapatan juga diarahkan agar tidak selalu membebankan pembiayaan peningkatan mutu kepada mahasiswa melalui Uang Kuliah Tunggal (UKT).

“Prinsipnya tegas: optimalisasi aset bukan privatisasi dan bukan penjualan aset universitas. Setiap pengembangan harus patuh aturan, dapat diaudit, memiliki nilai akademik dan manfaat publik, serta dikelola dengan pengendalian risiko,” jelasnya.

**ANDALKAN PENGALAMAN AKADEMIK, INTERNASIONAL, DAN NASIONAL**

Warsito menyebut pengalaman kepemimpinannya di berbagai tingkatan sebagai modal untuk menjalankan transformasi Unila.

Di lingkungan kampus, ia pernah menjabat Sekretaris Jurusan Fisika, Ketua Jurusan Fisika, Pembantu Dekan I/Wakil Dekan Bidang Akademik, Ketua Pusat Pengembangan Kurikulum, Ketua Senat Universitas Lampung, hingga Dekan FMIPA.

Pengalamannya berlanjut di tingkat internasional saat mengemban tugas sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Paris. Ia juga pernah menjabat Deputi di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Pengalaman tersebut, menurutnya, membentuk kemampuan untuk menghubungkan kebutuhan akademik kampus, jejaring internasional, serta kebijakan pembangunan nasional.

“Saya ingin mengubah modal itu menjadi model kepemimpinan yang disebut *institutional orchestration*: mempersatukan fakultas, program studi, pusat riset, alumni, pemerintah, dunia usaha, dan mitra global ke dalam agenda prioritas yang sama,” paparnya.

Ia juga menekankan pentingnya tata kelola yang berintegritas melalui sistem meritokrasi, transparansi pengambilan keputusan, jejak audit digital, pengawasan internal, serta pengelolaan konflik kepentingan.

Baginya, integritas tidak boleh hanya bergantung pada karakter seorang rektor, tetapi harus menjadi bagian dari sistem universitas.

“Saya tidak ingin sekadar menyatakan diri berintegritas. Saya ingin membangun tata kelola yang membuat integritas tidak bergantung pada siapa yang menjadi rektor. Keputusan harus dapat ditelusuri, konflik kepentingan harus dikelola, proses meritokratis harus dijaga, dan pimpinan harus siap dikritik serta diaudit,” tegasnya.

**TAHAP AKHIR BUKAN PENDEKATAN PERSONAL**

Terkait strategi menghadapi penilaian Menteri, Warsito menegaskan tidak akan mengandalkan pendekatan personal atau mencari jalan pintas.

Ia memilih menyampaikan argumentasi kelembagaan yang dapat diuji, mulai dari persoalan prioritas universitas, program penyelesaian, kebutuhan sumber daya, target pencapaian, hingga mekanisme evaluasi.

Menurutnya, program kerja harus selaras dengan agenda pendidikan tinggi nasional, terutama peningkatan mutu pembelajaran, penguatan sains dan teknologi, riset dan hilirisasi, tata kelola bersih, internasionalisasi, serta kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan.

“Bagi saya, meyakinkan Menteri tidak boleh dimaknai sebagai mencari jalan pintas atau mengandalkan kedekatan personal. Yang paling tepat ialah menghadirkan argumentasi kelembagaan yang dapat diuji,” ungkapnya.

Ia menyatakan siap mempertanggungjawabkan gagasan, program, dan rekam kerjanya di hadapan Menteri maupun seluruh sivitas akademika Unila.

**GO UNILA, BERDAMPAK BAGI LAMPUNG**

Warsito menargetkan Unila pada 2031 menjadi universitas yang lebih kuat secara akademik, produktif dalam riset, sehat dalam tata kelola, mandiri secara finansial, serta memiliki jaringan internasional yang semakin luas.

Ia ingin potensi Lampung menjadi sumber keunggulan ilmiah Unila sehingga hasil penelitian dan inovasi kampus mampu menjawab persoalan daerah sekaligus memberikan kontribusi bagi Indonesia dan dunia.

“GO UNILA bukan janji tentang kampus yang sekadar lebih terkenal. GO UNILA adalah janji kerja untuk kampus yang lebih bermutu, dipercaya, relevan, dan berdampak,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Warsito mengingatkan bahwa masa depan universitas harus ditempatkan di atas kepentingan kontestasi pemilihan rektor.

“Pemilihan rektor tentu penting, tetapi masa depan Unila jauh lebih penting daripada kontestasi itu sendiri. Saya ingin proses ini selesai dengan terhormat, tanpa memecah sivitas akademika, dan melahirkan pemimpin yang dapat bekerja bersama seluruh unsur kampus,” ujarnya.

Ia pun menyatakan siap menerima apa pun hasil akhir pemilihan dan tetap berkomitmen terhadap kemajuan Unila.

“Bila dipercaya, saya akan bekerja dengan prinsip tegas dalam nilai, santun dalam sikap, adil dalam keputusan, dan terukur dalam hasil. Bila amanah itu diberikan kepada calon lain, komitmen saya untuk kemajuan Universitas Lampung tidak berubah,” pungkasnya.

GO UNILA: Berakar di Lampung, Berdampak bagi Indonesia, Berjejaring dengan Dunia. (Cah).
.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *