Inflasi Oktober Tembus 0,54 Persen, BI Perkuat Strategi 4K Antisipasi Lonjakan Harga hingga Akhir Tahun
BANDARLAMPUNG – Tekanan harga pangan kembali membayangi perekonomian Lampung. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Provinsi Lampung pada Oktober 2026 mencapai 0,54 persen secara bulanan (month to month/mtm), meningkat tajam dibandingkan September yang sebesar 0,14 persen.
Kenaikan harga cabai merah, bawang merah, tomat, beras, dan cabai rawit menjadi penyumbang utama inflasi. Kondisi tersebut dipengaruhi berkurangnya pasokan setelah berakhirnya masa panen, penurunan produktivitas akibat musim kemarau, serta meningkatnya dampak fenomena El Nino.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menegaskan bahwa meskipun tekanan inflasi meningkat, kondisi inflasi daerah masih diprakirakan terkendali hingga akhir 2026. Namun, berbagai risiko kenaikan harga perlu diantisipasi melalui penguatan koordinasi dan langkah konkret pengendalian inflasi.
“Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat sinergi dan koordinasi untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan ketersediaan pasokan pangan bagi masyarakat. Berbagai risiko, terutama dampak El Nino terhadap produksi pangan dan hortikultura, perlu diantisipasi sejak dini,” demikian penegasan Bimo dalam siaran pers perkembangan inflasi Lampung Oktober 2026.
Berdasarkan data BPS, inflasi tahunan Lampung pada Oktober 2026 tercatat 3,83 persen (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,23 persen. Realisasi inflasi bulanan Oktober juga melampaui rata-rata inflasi Oktober dalam tiga tahun terakhir sebesar 0,32 persen.
Cabai merah menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,22 persen. Disusul bawang merah sebesar 0,07 persen, sedangkan tomat, beras, dan cabai rawit masing-masing memberikan andil 0,04 persen.
Kenaikan harga aneka cabai dan bawang merah dipicu berkurangnya pasokan seiring berakhirnya masa panen serta menurunnya produktivitas tanaman akibat musim kemarau.
Sementara itu, harga beras mengalami tekanan akibat penurunan produksi padi pascapanen gadu yang diperberat meningkatnya intensitas fenomena El Nino. Harga tomat juga terdorong naik karena meningkatnya permintaan di tengah keterbatasan pasokan.
**EL NINO JADI ANCAMAN**
BI Lampung mengingatkan sejumlah risiko yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga hingga akhir tahun. Dari sisi pangan, meningkatnya intensitas El Nino dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menekan produksi tanaman pangan serta hortikultura.
Panen gadu yang kurang optimal juga berpotensi meningkatkan harga gabah kering panen (GKP), biaya bahan baku penggilingan, hingga harga beras di tingkat konsumen.
Selain itu, persaingan pembelian gabah oleh agen dari luar Lampung berisiko mengurangi ketersediaan bahan baku bagi penggilingan lokal. Kondisi cuaca maritim dan gelombang laut yang tidak menentu juga dapat menghambat aktivitas nelayan serta mengurangi pasokan ikan.
Risiko lainnya berasal dari gejolak harga energi global, kenaikan harga minyak dunia, serta tingginya harga acuan LPG internasional yang berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan penyediaan energi.
Meski demikian, tekanan inflasi Oktober juga tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas. Terong memberikan andil deflasi 0,03 persen, daging ayam ras dan minyak goreng masing-masing 0,02 persen, serta jagung manis 0,01 persen. Penurunan harga emas perhiasan turut menyumbang deflasi sebesar 0,02 persen.
**BI ANDALKAN STRATEGI 4K**
Menghadapi berbagai risiko tersebut, BI bersama TPID Lampung memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Pada aspek keterjangkauan harga, langkah yang dilakukan meliputi optimalisasi operasi pasar beras dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta penguatan pemantauan harga komoditas strategis seperti beras, cabai, bawang merah, minyak goreng, dan gula pasir.
Dari sisi ketersediaan pasokan, BI mendorong optimalisasi Toko Inflasi di Bandar Lampung dan Kota Metro sebagai saluran distribusi pangan harian. Penguatan produksi hortikultura juga dilakukan melalui intensifikasi pertanian, penerapan smart fertigation, pembangunan greenhouse cabai, serta dukungan sarana produksi dan pascapanen.
Antisipasi El Nino dilakukan melalui optimalisasi sarana pengairan, penyesuaian kalender tanam, dan dukungan sumur bor pada klaster pertanian binaan.
Sementara untuk kelancaran distribusi, BI mengoptimalkan kerja sama antardaerah (KAD), termasuk pasokan cabai merah dari Kulon Progo ke Kota Metro serta bawang merah dari Kabupaten Solok ke Bandar Lampung dan Metro.
Pada aspek komunikasi efektif, penguatan integrasi data harga, neraca pangan, dan sistem e-Horti terus dilakukan untuk mendukung deteksi dini potensi gejolak harga.
Program percontohan e-Horti telah dilaksanakan di enam kabupaten/kota dengan melibatkan 110 petani dan mencakup luas tanam 55,42 hektare.
BI Lampung memprakirakan inflasi daerah tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen secara tahunan hingga akhir 2026. Namun, kewaspadaan terhadap dampak El Nino, gangguan produksi pangan, serta gejolak harga energi global tetap menjadi perhatian utama.
Penguatan sinergi pemerintah daerah, BI, TPID, pelaku usaha, dan petani menjadi kunci menjaga pasokan serta daya beli masyarakat di tengah meningkatnya tantangan ekonomi dan perubahan iklim. (*).






