EKSPOR LAMPUNG TEMBUS US$672,57 JUTA, SURPLUS PERDAGANGAN CAPAI US$543,58 JUTA

Ekspor Melonjak 23,79 Persen, Amerika Serikat Jadi Pasar Terbesar; NTP Petani Menguat, Inflasi Masih Membayangi

BANDARLAMPUNG – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Lampung menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat neraca perdagangan luar negeri pada September 2026 mengalami surplus sebesar US$543,58 juta. Capaian tersebut ditopang nilai ekspor yang mencapai US$672,57 juta, jauh melampaui impor sebesar US$128,99 juta.

Nilai ekspor Lampung tersebut meningkat 23,79 persen dibandingkan September 2025 yang tercatat US$543,32 juta. Sementara secara kumulatif Januari–September 2026, ekspor Lampung mencapai US$4,97 miliar atau meningkat 3,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pranata Komputer Madya BPS Provinsi Lampung, Hermawan Prasetyo, menjelaskan bahwa capaian surplus perdagangan tersebut mencerminkan nilai ekspor Lampung yang masih jauh lebih besar dibandingkan nilai impornya.

“Surplus neraca perdagangan luar negeri Lampung pada September 2026 mencapai US$543,58 juta. Kinerja ini didukung nilai ekspor sebesar US$672,57 juta, sementara impor tercatat US$128,99 juta. Secara kumulatif, ekspor Lampung selama Januari hingga September juga masih tumbuh positif sebesar 3,05 persen,” demikian draf kutipan penjelasan Hermawan berdasarkan data BPS.

**AS, TIONGKOK, DAN BELANDA JADI PASAR UTAMA**

Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat menjadi pasar ekspor terbesar Lampung selama Januari–September 2026 dengan nilai US$759,27 juta atau 15,27 persen dari total ekspor.

Posisi berikutnya ditempati Tiongkok sebesar US$577,59 juta atau 11,62 persen, serta Belanda sebesar US$405,83 juta atau 8,16 persen.

Komoditas lemak dan minyak hewani maupun nabati mendominasi perdagangan ke tiga negara tersebut.

Secara keseluruhan, komoditas ekspor terbesar Lampung masih didominasi lemak dan minyak hewani/nabati senilai US$2,21 miliar atau 44,50 persen. Berikutnya kopi, teh, dan rempah-rempah sebesar US$783,47 juta (15,76 persen), serta bahan bakar mineral sebesar US$737,66 juta (14,84 persen).

Menariknya, sebanyak 82,10 persen ekspor Lampung selama Januari–September 2026 diberangkatkan melalui pelabuhan di dalam provinsi dengan nilai US$4,08 miliar. Sementara 17,90 persen lainnya melalui pelabuhan di luar Lampung.

Di sisi impor, Lampung mencatat nilai US$128,99 juta pada September 2026 atau meningkat 9,99 persen secara tahunan. Namun, secara kumulatif impor Januari–September justru turun 25,86 persen menjadi US$1,20 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Amerika Serikat, Jerman, dan Australia menjadi tiga negara asal impor terbesar. Komoditas impor didominasi ampas dan sisa industri makanan, binatang hidup, serta kapal, perahu, dan struktur terapung.

**INFLASI 3,83 PERSEN, NTP PETANI MENGUAT**

Di tengah positifnya perdagangan luar negeri, perkembangan ekonomi Lampung juga diwarnai tekanan harga kebutuhan masyarakat.

BPS mencatat inflasi Lampung pada Oktober 2026 sebesar 0,54 persen secara bulanan. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,83 persen, sedangkan inflasi tahun kalender sebesar 2,86 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 1,24 persen dan andil 0,41 persen terhadap inflasi umum.

Cabai merah menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi tertinggi sebesar 0,22 persen, disusul bawang merah 0,07 persen, serta tomat, beras, dan cabai rawit masing-masing 0,04 persen.

Namun, terdapat kabar positif dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung pada Oktober 2026 meningkat 1,91 persen menjadi 140,26 dibandingkan bulan sebelumnya.

Penguatan tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura yang melonjak 12,72 persen menjadi 149,69. Kondisi ini menunjukkan peningkatan daya tukar petani hortikultura berdasarkan perbandingan indeks harga yang diterima dan dibayarkan petani.

Sementara itu, perkembangan sektor pariwisata masih menghadapi tantangan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada September 2026 tercatat 37,89 persen, turun 4,02 poin dibandingkan Agustus 2026.

**TRANSPORTASI BELUM MERATA**

Pergerakan transportasi Lampung pada September 2026 menunjukkan perkembangan berbeda di setiap moda.

Keberangkatan penumpang melalui Bandara Radin Inten II tercatat 45.272 orang, turun 19,89 persen dibandingkan Agustus 2026.

Penumpang berangkat melalui Pelabuhan Bakauheni juga mengalami penurunan menjadi 37.231 orang atau terkoreksi 21,01 persen secara bulanan.

Sebaliknya, angkutan kereta api menunjukkan pertumbuhan. Jumlah penumpang berangkat dari Stasiun Tanjungkarang mencapai 76.103 orang, meningkat 1,65 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan tumbuh 9,94 persen secara tahunan.

Rangkaian data BPS tersebut memperlihatkan dinamika perekonomian Lampung yang bergerak dengan capaian berbeda di setiap sektor. Perdagangan luar negeri mencatat surplus besar, daya tukar petani menguat, tetapi tekanan inflasi dan perlambatan sejumlah indikator pariwisata serta transportasi tetap menjadi perhatian.

Data lengkap perkembangan ekonomi Lampung dapat diakses melalui portal resmi BPS Provinsi Lampung di lampung.bps.go.id.

Catatan penting sebelum diterbitkan: Kutipan Hermawan Prasetyo di atas merupakan draf redaksional berdasarkan angka dalam siaran pers, bukan kutipan verbatim yang tersedia dalam bahan. Mohon konfirmasi kepada Hermawan sebelum dicetak sebagai pernyataan langsung. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *