Otokritik Pemuda Muhammadiyah Lampung di Tengah Godaan Politik Praktis
Oleh: Hasbullah
Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Lampung Maju” yang diusung dalam Rapat Kerja Wilayah Pemuda Muhammadiyah Lampung bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Tema ini merupakan refleksi mendalam sekaligus ujian kejujuran: sejauh mana gerakan ini benar-benar bertumbuh dan, yang lebih penting, mengakar.
Di tengah dinamika organisasi saat ini, kita dihadapkan pada sebuah ironi. Gerakan tampak hidup di permukaan. Kegiatan berjalan, struktur organisasi terbentuk, dan berbagai agenda terlaksana. Namun di balik itu, muncul kegelisahan yang tak bisa diabaikan. Ideologi mulai terasa mengering, kaderisasi kehilangan ruh, dan dakwah perlahan menjauh dari denyut kehidupan umat.
Pertanyaan mendasarnya sederhana, tetapi tajam: apakah Pemuda Muhammadiyah sedang membangun gerakan jangka panjang, atau sekadar bergerak mengikuti kepentingan sesaat? Jangan sampai organisasi hanya menjadi pengisi ruang yang kemudian dipenuhi berbagai kepentingan, tanpa arah perjuangan yang jelas.
Bayang-Bayang Politik Praktis
Tidak dapat dimungkiri, sebagian energi Pemuda Muhammadiyah hari ini terserap dalam pusaran politik praktis. Politik tentu bukan sesuatu yang tabu. Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam mengawal perjalanan bangsa dan negara.
Namun persoalannya bukan pada politik itu sendiri, melainkan pada orientasinya. Ketika politik tidak lagi diposisikan sebagai instrumen dakwah, melainkan berubah menjadi tujuan utama, maka yang lahir bukan kader ideologis, melainkan aktor-aktor pragmatis.
Gejala ini mulai terlihat. Loyalitas perlahan bergeser dari nilai kepada figur. Aktivitas organisasi tidak lagi sepenuhnya berangkat dari misi dakwah, tetapi kerap dibayangi kepentingan jangka pendek. Dalam beberapa situasi, organisasi bahkan terkesan menjadi kendaraan politik, bukan lagi gerakan dakwah.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, Pemuda Muhammadiyah berisiko kehilangan identitasnya sebagai gerakan kader dan gerakan ideologi, lalu berubah menjadi arena kompetisi kepentingan.
Ideologi yang Mulai Menipis
Sebagai organisasi yang lahir dari semangat tajdid, Pemuda Muhammadiyah semestinya menjadi ruang yang subur bagi tumbuhnya pemikiran Islam Berkemajuan. Namun realitas menunjukkan ruang-ruang ideologis semakin kehilangan kedalaman. Diskusi cenderung dangkal, kajian sering berhenti pada tataran seremonial, dan narasi besar Muhammadiyah lebih sering diulang daripada dipahami secara kritis.
Akibatnya, ideologi tidak lagi menjadi kesadaran yang hidup, melainkan sekadar slogan.
Padahal ideologi merupakan fondasi sebuah gerakan. Ia menentukan arah, membentuk sikap, serta menjadi kompas dalam mengambil keputusan. Tanpa ideologi yang kokoh, organisasi akan mudah goyah oleh godaan kekuasaan dan kepentingan.
Sudah saatnya Pemuda Muhammadiyah menghidupkan kembali tradisi intelektualnya. Forum organisasi harus menjadi ruang berpikir, bukan sekadar ruang berkumpul. Perbedaan pandangan perlu dirawat sebagai kekayaan gagasan, bukan dihindari demi kenyamanan semu.
Kaderisasi yang Kehilangan Arah
Kaderisasi adalah jantung organisasi. Namun dalam praktiknya, kaderisasi sering terjebak pada rutinitas administratif. Pelatihan diselenggarakan, sertifikat dibagikan, tetapi dampak jangka panjangnya minim. Kader hadir secara formal, tetapi tidak tumbuh secara ideologis. Mereka mengenal organisasi, namun belum sepenuhnya memahami nilai-nilai yang diperjuangkan.
Masalah ini tidak boleh dianggap sepele. Tanpa kaderisasi yang kuat, organisasi hanya akan melahirkan pengurus, bukan pemimpin.
Karena itu, kaderisasi harus diarahkan pada pembentukan karakter, penguatan spiritualitas, pengembangan kapasitas intelektual, dan kepemimpinan. Organisasi tidak cukup hanya melahirkan kader yang pandai berbicara, tetapi juga kader yang mampu berpikir, bersikap, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai Islam Berkemajuan.
Dakwah yang Kehilangan Daya Sentuh
Dakwah Pemuda Muhammadiyah juga menghadapi tantangan serius. Di satu sisi, dakwah masih sering terjebak dalam pola lama yang monoton. Di sisi lain, pendekatan yang terlalu elitis membuatnya sulit menjangkau masyarakat luas. Akibatnya, dakwah kehilangan daya sentuh. Ia tidak lagi hadir sebagai solusi atas persoalan umat, melainkan sekadar rutinitas yang terus berulang.
Padahal dakwah seharusnya hadir di tengah realitas kehidupan masyarakat. Dakwah harus mampu menjawab persoalan kemiskinan, pendidikan, krisis moral, hingga tantangan generasi digital.
Karena itu, dakwah harus membumi, relevan, dan solutif. Pemuda Muhammadiyah perlu mengembangkan model dakwah berbasis komunitas, memanfaatkan media digital secara kreatif, serta membangun kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Tanpa pembaruan semacam itu, dakwah akan tertinggal oleh perkembangan zaman.
Mengakar sebagai Fondasi Gerakan
Tema “mengakar” menjadi sangat penting. Sebab pertumbuhan tanpa akar hanya akan melahirkan gerakan yang rapuh. Mungkin tampak besar, tetapi mudah tumbang ketika diterpa ujian.
Mengakar berarti kembali kepada nilai-nilai dasar Muhammadiyah. Menguatkan ideologi, menjaga integritas, memperkokoh kaderisasi, dan menempatkan dakwah sebagai orientasi utama.
Sebaliknya, jika Pemuda Muhammadiyah hanya mengejar pertumbuhan tanpa penguatan nilai, maka yang terjadi hanyalah ilusi kemajuan. Gerakan tampak aktif, tetapi kehilangan arah.
Menentukan Arah Gerakan
Pemuda Muhammadiyah Lampung hari ini berada di sebuah persimpangan. Organisasi ini dapat memilih menjadi gerakan ideologis yang berakar kuat, atau terjebak menjadi gerakan pragmatis yang mudah berubah arah mengikuti kepentingan.
Pilihan pertama memang tidak selalu populer. Jalan ideologi sering kali tidak menawarkan keuntungan instan. Namun justru di situlah letak kekuatannya: ia mampu bertahan dalam jangka panjang, menjaga konsistensi, dan melahirkan perubahan yang bermakna.
Sejarah telah membuktikan bahwa gerakan besar tidak dibangun oleh mereka yang sekadar mengejar posisi, melainkan oleh mereka yang setia menjaga nilai.
Lampung tidak membutuhkan pemuda yang hanya aktif dalam forum, tetapi minim kontribusi. Lampung membutuhkan pemuda yang mampu menjadi penggerak perubahan, dengan akar ideologi yang kuat, integritas yang terjaga, dan visi yang jelas.
Karena itu, “Bertumbuh dan Mengakar” harus dimaknai sebagai satu kesatuan: bertumbuh untuk memberi manfaat, dan mengakar untuk menjaga keberlanjutan perjuangan.
Pada akhirnya, pertanyaan itu kembali kepada kita semua: apakah kita sedang membangun gerakan, atau sekadar mengisi ruang?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan masa depan Pemuda Muhammadiyah Lampung.Apabila artikel ini akan dimuat di media massa, naskah ini juga dapat dipadatkan menjadi sekitar 1.000–1.200 kata dengan gaya opini surat kabar yang lebih tajam dan argumentatif. (*).






