Akila Tak Lagi Pilih-Pilih Makan

Dari Anak yang Enggan Menyentuh Nasi, Kini Menjadi Duta Perubahan Gizi di Sekolahnya

SIDOMULYO — Di antara riuh tawa anak-anak usai mengikuti kegiatan JAPFA for Kids di SDN 1 Budidaya, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Jumat (31/7/2026), berdiri Akila. Siswi kelas IV itu tersenyum malu ketika diminta menceritakan perubahan yang ia rasakan selama mengikuti program peningkatan gizi tersebut.

Sulit membayangkan, beberapa bulan lalu Akila dikenal sebagai anak yang susah makan. Nasi sering tersisa di piring, sayur dihindari, bahkan telur menjadi makanan yang selalu ditolak.

“Dulu aku enggak suka nasi,” ucapnya lirih sambil tersenyum.

Kini cerita itu berubah. Akila menjadi salah satu dari delapan siswa yang mendapat intervensi khusus dalam program JAPFA for Kids. Pendampingan gizi yang dilakukan secara bertahap perlahan mengubah kebiasaan makannya.

Dengan wajah berbinar, Akila mengaku kini mulai menikmati makanan yang sebelumnya dihindari.

“Saya senang sekali dan terima kasih kepada JAPFA. Sekarang saya jadi suka telur dan makan saya selalu habis,” katanya.

Bukan hanya telur, Akila juga mulai menyukai nasi, sayur, dan ikan. Kebiasaan sederhana yang dulu terasa sulit kini menjadi bagian dari kesehariannya. Ia bahkan hafal langkah-langkah mencuci tangan yang benar, hasil dari edukasi kesehatan yang rutin diberikan di sekolah.

Perubahan itu mungkin tampak kecil. Namun bagi guru dan orang tua, perubahan tersebut adalah pencapaian besar. Sebab, membangun kebiasaan makan sehat pada anak membutuhkan proses, kesabaran, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Program JAPFA for Kids yang tahun ini menjangkau 15 sekolah di Kabupaten Lampung Selatan tidak hanya membagikan bantuan pangan bergizi, tetapi juga menanamkan pemahaman tentang pentingnya pola hidup sehat sejak usia dini. Edukasi kepada siswa, guru, dan orang tua menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang lebih sehat dan cerdas.

Kisah Akila menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang, ia bermula dari keberanian seorang anak mencoba sepotong telur, menghabiskan sepiring nasi, lalu perlahan menemukan kebiasaan baru yang akan membawanya tumbuh lebih sehat.

Di balik senyum malu siswi kelas IV itu, tersimpan harapan besar: bahwa setiap anak berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh kuat, cerdas, dan menggapai cita-citanya. Sebab, masa depan bangsa sering kali dimulai dari perubahan kecil di meja makan. (Cah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *