Bernard Soroti Pengangguran Lampung, Dorong SMK Link and Match Dunia Kerja

APINDO Tekankan Penyerapan Tenaga Kerja Muda dan Penguatan Ekonomi Desa untuk Perluas Kesempatan Kerja

Bandarlampung – Persoalan pengangguran dan terbatasnya kesempatan kerja bagi generasi muda menjadi perhatian dunia usaha di Provinsi Lampung. Keterhubungan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri serta penguatan ekonomi berbasis potensi desa dinilai penting untuk memperluas penyerapan tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Assistant Vice President Head of Human Resources PT Nestlé Indonesia sekaligus pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Lampung, Bernard H. Simanjuntak, menyoroti tantangan tersebut dalam Seminar Kebangsaan Sumpah Pemuda 2026 yang diselenggarakan Pengurus Daerah (Pengda) Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya Provinsi Lampung di Ballroom Akar Hotel & Resort, Bandar Lampung, Selasa (27/10/2026).

Bernard mendorong penguatan hubungan antara sekolah menengah kejuruan (SMK) dan dunia kerja agar lulusan pendidikan vokasi memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Sinergi tersebut diharapkan membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi muda untuk memasuki dunia kerja.

“Untuk mengatasi persoalan pengangguran sekaligus menyemangati semangat Sumpah Pemuda, kita mendorong dunia SMK terhubung dengan dunia kerja agar dapat menyerap tenaga kerja generasi muda,” tegas Bernard.

Menurutnya, tantangan ketenagakerjaan tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan jumlah lulusan pendidikan. Diperlukan keterhubungan antara keterampilan yang dimiliki pencari kerja dan kebutuhan nyata perusahaan, termasuk melalui pengenalan industri, pelatihan, magang, serta peningkatan kompetensi teknis dan nonteknis.

Data ketenagakerjaan yang dipaparkan dalam materi seminar menunjukkan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Lampung pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,97 persen, meningkat tipis dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 3,95 persen.

Jumlah pengangguran mencapai 204.450 orang, bertambah 2.130 orang dibandingkan Februari 2026 yang tercatat 202.320 orang. Sementara itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) berada pada angka 70,93 persen.

Persoalan tersebut juga memperlihatkan tantangan berbeda berdasarkan wilayah dan jenjang pendidikan. TPT di perkotaan tercatat 6,15 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan perdesaan sebesar 2,54 persen.

Berdasarkan jenjang pendidikan, kelompok lulusan diploma dan universitas memiliki TPT sebesar 7,92 persen, sedangkan lulusan SD ke bawah sebesar 1,47 persen. Adapun TPT perempuan tercatat 4,19 persen, lebih tinggi daripada laki-laki sebesar 3,84 persen.

Data tersebut menjadi pengingat bahwa perluasan kesempatan kerja perlu diikuti peningkatan kualitas pekerjaan dan kesesuaian kompetensi. Lulusan pendidikan tinggi maupun vokasi membutuhkan akses terhadap peluang kerja produktif, sementara dunia usaha memerlukan tenaga kerja yang siap menghadapi tuntutan industri.

Selain mendorong penyerapan tenaga kerja melalui industri, Bernard menekankan pentingnya menggerakkan ekonomi dari desa. Upaya ini sejalan dengan arah pembangunan yang didorong Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, yakni memperkuat potensi lokal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Kita juga mendorong pergerakan ekonomi dari desa sesuai dengan program Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal,” ujarnya.

Penguatan ekonomi desa dinilai dapat membuka peluang usaha baru sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi generasi muda tanpa harus seluruhnya bergantung pada kesempatan kerja di perkotaan.

Potensi pertanian, perkebunan, pengolahan hasil produksi, perdagangan, hingga ekonomi digital dapat dikembangkan menjadi ruang produktif bagi pemuda. Namun, pengembangannya membutuhkan dukungan keterampilan, akses pasar, teknologi, permodalan, legalitas usaha, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan organisasi kepemudaan menjadi faktor penting agar potensi tersebut dapat diolah menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah.

Dalam konteks pembangunan ketenagakerjaan, keterlibatan dunia usaha tidak hanya dibutuhkan saat merekrut pekerja, tetapi juga sejak proses penyiapan sumber daya manusia.

Kemitraan antara perusahaan dan SMK dapat diperkuat melalui penyelarasan kurikulum, kelas praktisi, kunjungan industri, program magang terstruktur, serta pembekalan keterampilan sesuai standar kerja. Dengan cara tersebut, lulusan diharapkan lebih siap menghadapi proses rekrutmen dan beradaptasi di lingkungan profesional.

Di sisi lain, pemerintah daerah dapat memperkuat fasilitasi pelatihan, penyediaan informasi pasar kerja, serta pengembangan usaha berbasis potensi lokal. Organisasi kepemudaan juga dapat membantu menghubungkan generasi muda dengan berbagai kesempatan pengembangan keterampilan dan kewirausahaan.

Seminar Kebangsaan Sumpah Pemuda 2026 yang mengusung tema **“Merawat Persatuan, Menguatkan Kolaborasi, Menggerakkan Pemuda untuk Lampung dan Indonesia Maju”** menjadi momentum untuk memperkuat sinergi lintas sektor tersebut.

Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, upaya mengatasi pengangguran diharapkan tidak berhenti pada penurunan angka statistik, tetapi juga mampu memperluas akses terhadap pekerjaan yang produktif, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Bagi Lampung, penguatan hubungan pendidikan dengan dunia kerja serta pengembangan ekonomi desa merupakan dua jalur yang dapat berjalan beriringan untuk memperluas kesempatan bagi generasi muda dalam membangun masa depan daerah. (*).
.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *