Mashuril Anwar: Pemuda Harus Jadi Pencipta Solusi, Bukan Sekadar Pencari Kerja

Pendidikan Merdeka, Integritas Digital, dan Empati Jadi Kunci Menuju Indonesia Emas 2045

Bandarlampung — Generasi muda Indonesia dituntut tidak sekadar menjadi pengguna teknologi dan pencari kerja, tetapi harus mampu menciptakan peluang, melahirkan inovasi, serta menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan beriringan dengan karakter, integritas, kreativitas, dan kepedulian sosial.

Pesan tersebut disampaikan Mashuril Anwar, S.H., M.H., Ketua Program Studi Hukum Bisnis Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, saat menjadi pemateri dalam Seminar Kebangsaan Sumpah Pemuda 2026 yang diselenggarakan Pengurus Daerah (Pengda) Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya Provinsi Lampung di Ballroom Akar Hotel & Resort, Bandar Lampung, Selasa (27/10/2026).

Dalam pemaparannya bertajuk “Satu Nusa, Banyak Talenta: Pendidikan yang Memerdekakan, Generasi Muda Inovatif, dan Berdaya Saing Menuju Indonesia Emas 2045”, Mashuril menegaskan bahwa tantangan pemuda masa kini bukan hanya melanjutkan semangat perjuangan generasi 1928, melainkan menerjemahkan nilai persatuan ke dalam tindakan nyata di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“Teknologi kita berkembang sangat cepat. Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah karakter kita juga ikut berkembang? Kita semakin terhubung secara digital, tetapi jangan sampai kehilangan kepedulian sosial dan kepekaan terhadap persoalan di sekitar kita,” tegas Mashuril.

Menurut dia, pemuda 1928 memiliki keterbatasan teknologi, tetapi mampu membangun persatuan dan tekad kebangsaan. Sebaliknya, generasi sekarang memiliki akses informasi tanpa batas, internet, dan AI yang dapat mempermudah berbagai pekerjaan. Tantangannya adalah memastikan kemajuan tersebut tidak mengikis kemandirian berpikir, tanggung jawab, dan integritas.

Mashuril menjelaskan, pendidikan menuju Indonesia Emas 2045 harus bertumpu pada tiga fondasi utama, yakni pendidikan yang memerdekakan, penguatan kapasitas dan kemandirian, serta integritas di era digital.

Pendidikan, kata dia, tidak boleh berhenti pada kemampuan menghafal teori, meraih nilai tinggi, atau mengumpulkan sertifikat. Lebih dari itu, pendidikan harus membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, etis, dan menerapkan pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata.

“Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan orang yang mampu menghafal pengetahuan. Pendidikan harus membentuk manusia yang memiliki kepekaan terhadap kesulitan masyarakat,” ujarnya.

Dalam konteks pendidikan tinggi, Mashuril mencontohkan mahasiswa hukum yang tidak cukup hanya menguasai peraturan perundang-undangan, tetapi juga harus mampu menyusun argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Demikian pula mahasiswa bisnis yang perlu mengembangkan kemampuan membangun usaha secara jujur, inovatif, dan berkelanjutan.

Ia mengingatkan, tingginya capaian akademik tidak otomatis menjamin seseorang memberikan manfaat bagi lingkungan. Pengetahuan akan kehilangan makna apabila hanya digunakan untuk kepentingan pribadi tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan penderitaan masyarakat.

“Teknologi dan nilai tinggi tidak bisa menggantikan kepekaan terhadap penderitaan sosial. Kemerdekaan sejati dalam pendidikan adalah ketika seseorang mampu menggunakan pengetahuannya untuk memperbaiki kehidupan bersama,” ungkapnya.

Sorotan lain dalam pemaparannya adalah penggunaan kecerdasan buatan di dunia pendidikan. Mashuril menilai, AI dapat membantu mahasiswa mengeksplorasi gagasan, memahami konsep, dan mengembangkan tulisan. Namun, kemudahan itu juga berisiko mengurangi kemampuan berpikir mandiri apabila pengguna hanya menerima jawaban tanpa memeriksa kebenaran dan memahami prosesnya.

Karena itu, ia mendorong generasi muda menggunakan AI secara bertanggung jawab melalui empat prinsip, yakni memperkuat pembelajaran (amplify), memverifikasi informasi (*verify*), melindungi data (*protect*), dan menjaga integritas (*integrity*).

Menurut Mashuril, jawaban yang terlihat meyakinkan belum tentu benar. Mahasiswa harus tetap memeriksa fakta melalui sumber tepercaya, menghormati hak cipta, menjaga informasi pribadi, serta mematuhi aturan akademik.

“AI harus menjadi alat untuk memperluas nalar manusia, bukan menggantikan tanggung jawab kita untuk berpikir. Generasi yang berdaya saing bukan sekadar mereka yang mampu menggunakan teknologi terbaru, melainkan mereka yang mampu memadukan teknologi dengan penalaran, kreativitas, dan integritas,” katanya.

Mashuril juga mengajak generasi muda mengubah pola pikir dari pencari kerja pasif menjadi pencipta peluang dan inovator sosial. Menurut dia, inovasi tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari keberanian mengenali persoalan, memahami kebutuhan masyarakat, dan merancang solusi yang sesuai.

Ia mencontohkan berbagai inisiatif sederhana yang dapat dilakukan mahasiswa, mulai dari pengelolaan sampah berbasis komunitas hingga pengembangan katalog digital bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Inisiatif tersebut bukan hanya menjadi sarana penerapan ilmu, melainkan juga langkah awal membangun kemandirian dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.

“Ketika menghadapi masalah, jangan hanya bertanya siapa yang harus disalahkan. Tanyakan apa yang dapat dipelajari dan siapa yang dapat diajak bekerja sama,” pesannya.

Untuk membangun kapasitas pemuda, Mashuril memperkenalkan konsep Tangga 5K, yang mencakup kompetensi, karakter, kreativitas, kolaborasi, dan kontribusi.

Kompetensi menjadi dasar penguasaan ilmu, karakter memastikan kemampuan digunakan secara benar, kreativitas mendorong lahirnya gagasan baru, kolaborasi mempertemukan beragam perspektif, sedangkan kontribusi memastikan setiap kemampuan menghasilkan manfaat nyata.

“Kompetensi membuat Anda mampu melakukan sesuatu. Karakter memastikan kemampuan itu digunakan secara benar,” tandasnya.

Memasuki Indonesia Emas 2045, Mashuril menilai semangat Sumpah Pemuda harus dimaknai lebih luas. Jika pada 1928 persatuan diwujudkan melalui kesediaan melampaui perbedaan suku, kelompok, dan bahasa, maka persatuan masa kini perlu diterjemahkan melalui kolaborasi lintas disiplin, penghormatan terhadap perbedaan gagasan, dan pemanfaatan teknologi untuk kepentingan bersama.

Ia mendorong generasi muda menguasai setidaknya satu bidang keahlian secara mendalam, memperkuat literasi digital, menghasilkan karya yang menjawab kebutuhan masyarakat, mengembangkan kepemimpinan, serta memperluas jejaring dan berbagi pengetahuan.

Karakter patriotik, gigih, dan berempati juga harus menjadi pedoman dalam kehidupan digital. Cinta tanah air diwujudkan melalui karya yang bermanfaat, kegigihan ditunjukkan dengan kemauan belajar dan memperbaiki kesalahan, sedangkan empati tercermin dalam sikap memeriksa kebenaran informasi, menolak perundungan, dan menghormati perbedaan.

Bagi Mashuril, generasi muda tidak cukup hanya mengenang Sumpah Pemuda sebagai peristiwa bersejarah. Semangat tersebut harus hadir dalam keputusan, perilaku, dan karya sehari-hari.

“Masa depan Indonesia tidak sekadar menunggu kita. Masa depan itu sedang dibentuk oleh pilihan, karakter, dan tindakan kita hari ini,” pungkasnya.

Ia berharap, pendidikan yang memerdekakan dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik dan teknologi, tetapi juga mandiri, berintegritas, serta memiliki kepedulian untuk membangun bangsa. Dengan demikian, cita-cita Indonesia Emas 2045 dapat diperjuangkan melalui kualitas manusia yang mampu mengubah pengetahuan menjadi inovasi dan persatuan menjadi kekuatan bersama. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *